Author: Abou Moumtaza pada : 24 Juni 2008
Pahlawan itu bernama Ibu. Dan itu justru kurasa lama dari waktu seharusnya. Aku teramat menyesal mengakuinya baru setelah hari itu. Seharusnya sudah lama sekali, sejak aku dalam kandungannya.
Pahlawan itu bernama ibu, dan aku teramat terlambat menyadarinya. Ibu mengandungku dalam tradisi kemengandungan yang luar biasa berat. Mual dan muntah-muntah, mungkin hal biasa. Tapi, terus turut bekerja keras menjual dagangan makanan : kolak pisang, bubur pati dan rujak untuk turut mendukung Bapak yang hanya guru SD, adalah hal yang luar biasa.
Pahlawan itu bernama ibu, dan aku teramat terlambat menyadarinya. Ibu melahirkanku dalam duka yang merata, bersama keprihatinan hidup yang Bapak tawarkan. Namun tetap saja dia tersenyum, bahkan ketika kelahiranku adalah siksaan belati teramat tajam, yang mengiris dan menguakkan luka sekaligus!
Pahlawan itu bernama ibu, dan aku teramat terlambat menyadarinya. Ibu membesarkanku dalam tirakat panjang, dalam khusyu doa, dalam keprihatian yang luar biasa.
Pahlawan itu bernama ibu, dan aku teramat terlambat menyadarinya. Baru ketika aku pulang untuk merasai kembali setiap usapan di rambutku, untuk setiap senyum yang dia tawarkan bagi setiap keluh kesahku, untuk setiap selera makan yang meningkat karena nikmatnya masakan Ibu.
Pahlawan itu bernama ibu, dan aku teramat terlambat menyadarinya. Tapi, rasanya tidak terlambat untuk mengatakan : aku cinta Ibu.
Author: Abou Moumtaza pada : 03 Juni 2008
maaf
untuk gagal memahami
maaf
untuk gagal kaupahami